Tampilkan postingan dengan label artikel sehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel sehat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 September 2007

Daya Penyembuhan Klorofil; Alternatif penyembuhan DBD

Leenawaty Limantara

MEREBAKNYA penyakit demam berdarah di wilayah Indonesia telah diputuskan sebagai kejadian luar biasa nasional oleh Menteri Kesehatan Achmad Sujudi (Senin, 16 Februari 2004).

Segala upaya pencegahan, pendeteksian, dan penatalaksanaan korban demam berdarah harus diupayakan untuk mencegah meluasnya kasus ini. Media massa mengupas tentang gejala-gejala penyakit demam berdarah, kiat-kiat mewaspadai demam berdarah, cara penyebaran virus dan upaya pencegahan penularan penyakit sampai pada perilaku vektor pembawa (nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus), dan tipe-tipe virus dengue.

Pengembangan vaksin dengue juga telah dijalankan selam 20 tahun terakhir, di mana telah berhasil dibuat vaksin divalen (dua serotipe) dan trivalen (tiga serotipe). Bahkan, tengah diupayakan penelitian vaksin dengue tetravalen (empat serotipe). Akan tetapi, sampai saat ini vaksin tersebut belum dipasarkan di Indonesia.

Penyakit demam berdarah yang disebabkan oleh virus dengue menyebabkan gangguan pada pembuluh darah kapiler dan pada sistem pembekuan darah sehingga mengakibatkan pendarahan-pendarahan. Pengobatan terutama ditujukan untuk mengatasi pendarahan, mencegah keadaan syok dengan mengusahakan agar penderita banyak minum, dan bila perlu memberikan cairan melalui infus. Transfusi darah diberikan kepada penderita dengan tanda-tanda perdarahan yang signifikan.

Untuk mengatasi demam, biasanya diberikan parasetamol. Bentuk-bentuk pendarahan spontan dapat berupa perdarahan kecil-kecil di kulit (petechiae), perdarahan agak besar di kulit (echimosis), perdarahan gusi, hidung, dan kadang-kadang dapat terjadi perdarahan masif yang dapat berakhir dengan kematian. Menurunnya jumlah trombosit darah dan pengentalan darah merupakan ciri khas penyakit demam berdarah berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium.

Ciri umumnya berupa demam tinggi yang terjadi secara tiba-tiba, tanda-tanda perdarahan, pembesaran hati, dan kadang-kadang disertai syok. Penderita kehilangan nafsu makan, berkeringat banyak dan lesu, dengan keluhan sakit kepala, nyeri otot, sendi, tulang, dan ruam-ruam. Suatu terobosan baru menggunakan bahan alam klorofil diajukan sebagai alternatif penyembuhan sekaligus upaya pencegahan demam berdarah.

Klorofil vs hemoglobin

Ahli kimia Jerman, Dr Richard Willstatter (1913), berhasil mengidentifikasi fungsi sesungguhnya dari klorofil (zat hijau daun) dan menjelaskan bahwa molekul klorofil memiliki kesamaan struktur dengan hemoglobin, pigmen merah dalam darah manusia. Baik Richard Willstatter maupun Dr Hans Fisher memperoleh hadiah Nobel atas penemuan mereka terhadap struktur klorofil dan struktur hemoglobin.

Sungguh luar biasa mengetahui bahwa perbedaan antara kedua molekul ini hanya terletak pada atom pusat dari molekul. Atom pusat klorofil adalah magnesium dan atom pusat hemoglobin adalah besi. Berdasarkan penemuan ini, dapat disimpulkan bahwa klorofil memiliki nilai besar terhadap tubuh manusia. Klorofil menjadi nutrisi vital bagi tubuh manusia dan merupakan molekul yang dapat diterima oleh tubuh secara alamiah.

Klorofil berfungsi sebagai desinfektan dan antibiotik, bahkan sebelum adanya obat- obatan sintetis. Klorofil membersihkan jaringan-jaringan tubuh dan tempat pembuangan sisa limbah metabolisme dalam tubuh, sekaligus mengatasi parasit, bakteri, dan virus yang ada dalam tubuh manusia. Bahkan, klorofil dapat menghilangkan senyawa-senyawa kimia bersifat racun dalam tubuh.

Ekor molekul klorofil yang bersifat hidrofobik dapat menggali ke dalam sel/jaringan dan mengangkat senyawa hidrokarbon dari dinding sel serta mengeluarkan senyawa beracun tersebut, seperti halnya sabun mengangkat lemak dan kotoran pada tangan kita. Hidrokarbon yang dimaksud adalah pestisida, obat-obatan yang tertimbun dalam tubuh, pewarna makanan, bahkan bakteri, parasit, dan virus.

Tugas ini merupakan fungsi dari organ hati. Klorofil membantu kerja organ hati dan memproteksi organ hati sehingga kesehatan manusia dapat terjamin.

"Energi datang dari mengonsumsi energi". Sebenarnya energi datang dari oksigen dan rantai glukosa yang oleh sel dibakar untuk membuat molekul yang dikenal sebagai ATP. ATP-lah yang merupakan bahan bakar dalam tubuh kita. Kerja otak manusia bergantung pada ATP.

Energi datang dari sel-sel darah merah yang membawa oksigen ke dalam sel-sel tubuh kita. Hemoglobin merupakan molekul dalam sel darah merah yang membawa oksigen. Adapun klorofil adalah pembentuk sel darah merah yang paling cepat di dalam tubuh manusia. Dengan mengonsumsi klorofil, jumlah sel darah dapat meningkat sangat cepat sehingga pasokan energi dalam tubuh dapat terus-menerus dijamin.

Masuknya organisme bersel tunggal, seperti virus, bakteri, parasit, dan jamur dapat mengganggu kesehatan manusia karena organisme-organisme ini menyebabkan sel melemah dan kelaparan akan nutrisi, menghalangi produksi mukosa pelindung tubuh, meracuni dan melemahkan daya kerja metabolisme tubuh, bahkan menyebabkan dinding sel tidak terlindungi.

Ann Wigmore (The Wheatgrass Book, 1985) mengatakan bahwa klorofil dapat melindungi kita dari senyawa-senyawa karsinogen, di mana makanan dan obat lainnya sudah tidak berfungsi lagi. Klorofil bertindak menguatkan sel-sel, melepaskan zat racun dari hati dan aliran darah dan secara kimiawi menetralisasi polutan-polutan.

Klorofil yang dikonsumsi secara oral dapat menjadi alternatif pengganti transfusi darah. Bahkan, dalam bukunya, The Healing Power of Chlorophyll, Bernard Jensen menegaskan berbagai hasil eksperimen dengan tikus, di mana darah tikus digantikan dengan klorofil, tetap dapat menjaga kelangsungan hidup tikus-tikus tersebut. Tim O’Shea dalam bukunya (The Sanctity of Human Blood) menegaskan bahwa vaksinasi bukanlah suatu proses imunisasi karena segala benda asing yang tidak mirip dengan molekul-molekul yang ada secara alami dalam tubuh, baik itu obat, vaksin, bakteri, virus, parasit, maupun makanan beracun dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh manusia.

Klorofillah satu-satunya molekul yang dapat diterima oleh tubuh karena kesamaannya dengan hemoglobin sehingga potensial dalam meningkatkan ketahanan tubuh kita.

Fungsi utama klorofil

Penggunaan klorofil, baik berupa tablet, bubuk, maupun cairan yang dikemas dan banyak terdapat di pasaran, dapat membantu dalam hal (1) meningkatkan jumlah sel-sel darah, khususnya meningkatkan produksi hemoglobin dalam darah, (2) mengatasi anemia, (3) membersihkan jaringan tubuh, (4) membersihkan hati dan membantu fungsi hati, (5) meningkatkan daya tahan tubuh terhadap senyawa asing (virus, bakteri, parasit, dan lain-lain), (6) memperkuat sel, dan (7) melindungi DNA terhadap kerusakan. Yang terpenting dari molekul klorofil ini adalah aman terhadap tubuh.

Mengingat serangan virus dengue menyebabkan gejala-gejala perdarahan dan menurunnya jumlah trombosit, pengobatan dengan klorofil selayaknya dilirik sebagai upaya alternatif bagi pengobatan demam berdarah. Dari sisi pencegahan, mengonsumsi klorofil merupakan tindakan bijaksana dalam meningkatkan pertahanan tubuh sehingga memungkinkan kita melawan benda asing yang masuk ke dalam tubuh, tak terkecuali virus dengue. Sirkulasi darah yang bersih dan kaya akan sel darah merah untuk membawa oksigen merupakan mekanisme pertahanan tubuh alamiah yang paling andal.

Sebenarnya alam telah menyediakan sumber-sumber klorofil yang sangat andal yang dapat dikonsumsi tanpa membeli kemasan- kemasan klorofil tablet ataupun cairan. Caranya adalah mengonsumsi dengan rutin sayuran-sayuran hijau kaya klorofil setiap hari. Katuk merupakan tumbuhan lokal asli Indonesia yang kaya akan klorofil.

Dr Leenawaty Limantara Pengajar di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga

(http://www.kompas.com/kompas-cetak/0404/06/humaniora/951295.htm)

Penemu Obat Kanker dari Klorofil

Dunia tumbuh-tumbuhan mampu menaklukkan hati Leenawaty Limantara PhD. Kecintaannya kepada dunia tumbuhan tak main-main. Seusai menyelesaikan kuliah di Fakultas Biologi Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, ia pun memutuskan melanjutkan studi ke bidang kimia di Universitas Kwansei Gakuin, Jepang, hanya untuk mendalami penelitian terhadap proses kimia dari fotosintesis pada tumbuhan. Karena pada saat meneliti proses fotosintesis itu ia jatuh cinta kepada klorofil atau zat hijau daun, sebagai salah satu molekul yang paling berperan dalam proses tersebut.

"Sejak saat itu saya bertekad harus mengetahui unsur kimia dari klorofil. Makanya saya putuskan untuk pindah bidang studi," ia menjelaskan.

Penelitiannya terhadap kandungan klorofil pada algae (ganggang) dan bakteri telah dimulai sejak 1991. Tapi, ketika itu yang ia teliti baru sebatas penelitian dasar mengenai klorofil. Saat itu ia baru mengetahui bahwa molekul klorofil baru bisa berfungsi apabila berada pada suatu tahapan yang disebut tereksitasi dan tahapan teroksidasi.

"Pada saat itu penelitian-penelitian di tingkat dunia telah berhasil menemukan spektrum dari molekul klorofil pada saat ia tereksitasi. Tapi untuk menjawab atau menentukan spektrum itu, atau berbicara mengenai seperti apa tingkah laku atau bagaimana molekul ini bergerak, masih belum bisa dilakukan. Sehingga penentuan empiris mengenai klorofil, khususnya bakterioklorofil pada saat itu tidak bisa dilakukan. Nah, itulah yang memicu saya untuk memulai penelitian ini," ujarnya.

Penelitian Dasar

Pada penelitiannya lebih lanjut yang memakan waktu tahunan, akhirnya Leenawaty pun menemukan bahwa jika atom-atom yang merupakan bagian dari penyusun klorofil tersebut diberi label atau tanda, ia akan dapat mengetahui perilaku molekul pada tahap tereksitasi. Dengan diketahuinya perilaku molekul pada saat tereksitasi, katanya, akan membuka pemahaman lebih dalam mengenai mekanisme klorofil dalam menyerap cahaya di dalam mentransfer energi, dan membuka peluang kepada berkembangnya ilmu-ilmu yang lain. "Jadi penelitian dasar itu sangat penting untuk mendukung ke penelitian terapan," ia menegaskan.

Tak cukup sampai di situ, Leenawaty pun melanjutkan penelitiannya, dengan menggunakan bakteri yang tidak mengandung karotenoid. Bakteri yang manja dan sangat labil itu juga berhasil diisolasi sehingga membentuk spesies radikal kation pada antena penangkap cahaya.

Penemuan itu memungkinkan para pakar fotosintesis mendapatkan pemahaman lengkap mengenai fungsi fisiologis bakterioklorofil. Dewasa ini dengan penemuan-penemuannya itu, ia telah berhasil mengembangkan risetnya dan menemukan obat yang bisa membunuh sel kanker dengan cara kerja mirip proses fotosintesis daun.

"Saya tidak mau bilang kalau klorofil merupakan obat bagi penderita kanker atau tumor. Hanya saya bisa katakan bahwa klorofil bisa digunakan sebagai obat fotosensitizer, yaitu klorofil potensial untuk mengendalikan kanker. Tapi, sekali lagi saya katakan, yang mengendalikan itu bukan klorofil melainkan fotosensitizernya," katanya.

Meski demikian, kata dia, sejumlah jurnal ilmiah di dunia internasional telah memuat manfaat klorofil sebagai suplemen atau minuman kesehatan. Dan, terbukti telah menyembuhkan beberapa penderita kanker paru-paru, mata, saluran pencernaan, mulut, dan lain-lain.

"Bukti bahwa klorofil telah berhasil menyembuhkan kanker-kanker itu telah dimuat di sejumlah jurnal ilmiah. Tapi saya tidak mau menyebut kalau klorofil adalah obat segala jenis kanker," ia mengimbuhkan.

Berdasarkan hasil penemuannya itu, ia pun berencana akan memproduksi makanan atau minuman suplemen bagi kesehatan yang mengandung klorofil. "Karena zat hijau daun bisa diproduksi ke dalam bentuk tablet, minuman, injeksi, salep, atau lain-lain. Kalau nanti saya sudah menciptakan minuman kesehatan dari klorofil, pasti akan saya patenkan," ujarnya.

Kembali Meneliti

Leenawaty, kelahiran Teluk Betung, Lampung, 24 Juni 1965, adalah satu di antara ilmuwan, termasuk guru, yang memperoleh penghargaan Indonesia Toray Science Foundation pada penggal awal Februari lalu. Berkat karyanya, Photochemistry and Photobiology of Bacterio (Chlorophyll) and Derivatives in Various Electronic States: From Basic to Its Application, ia memperoleh hadiah uang Rp 60.000.000.

Leenawaty yang sehari-hari bisa dijumpai di Magister Biologi Universitas Kristen Satya Wacana itu, mengaku belum akan mewujudkan keinginan untuk memproduksi minuman kesehatan tersebut dalam waktu dekat ini. Saat ini ia tengah berkonsentrasi untuk kembali meneliti fotodegradasi dari bakterioklorofil dan turunannya.

Hanya, untuk melakukan penelitian itu ia membutuhkan alat kromatografi cair kinerja tinggi yang agak modern. Dan untuk membelinya harganya cukup mahal, mencapai Rp 280 juta.

Ia pun berharap ada yang membantunya untuk memiliki alat tersebut. Ia mencontohkan para profesornya di Jepang mengirimkan peralatan penelitian ke laboratoriumnya di Salatiga. "Meskipun memerlukan beberapa perbaikan, tapi masih bisa digunakan," ujarnya. [Pembaruan/Yumeldasari Chaniago]

(http://www.suarapembaruan.com/News/2006/04/05/Gaya/gaya04.htm)